Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh mengungkapkan bahwa sebanyak 80 ribu warga di wilayah Aceh telah terpapar narkotika. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 1,7 persen dari total populasi provinsi yang mencapai lebih dari 5 juta jiwa.
Data ini disampaikan langsung oleh Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Marzuki Ali Basyah, dalam konferensi pers yang berlangsung pada akhir Juli 2025. Ia menegaskan bahwa angka tersebut mencerminkan kondisi darurat narkoba yang sedang dihadapi masyarakat Aceh saat ini.
“Pengguna narkotika di Aceh saat ini tersebar dari berbagai kalangan. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan pengguna ganja, sisanya teridentifikasi menggunakan jenis narkotika lain seperti sabu, ekstasi, kokain, dan heroin,” ujar Marzuki dalam keterangannya.
BNNP juga menyebutkan bahwa peredaran narkoba di Aceh tidak hanya berdampak pada kelompok usia tertentu, tetapi telah menjangkau berbagai lapisan masyarakat tanpa memandang usia, pekerjaan, maupun kondisi ekonomi. Hal ini menandakan bahwa penyebaran narkotika di wilayah tersebut sudah sangat luas dan merata.
Lebih lanjut, BNNP menyoroti posisi geografis Aceh sebagai jalur strategis dalam peredaran narkotika di Indonesia. Sekitar 80 persen pasokan narkotika nasional dilaporkan masuk melalui wilayah perairan Aceh, menjadikan provinsi ini sebagai salah satu titik rawan perlintasan narkoba dari luar negeri.
Dalam menghadapi situasi ini, pihak BNNP bersama aparat penegak hukum dan tokoh masyarakat terus mengintensifkan langkah-langkah pengawasan, sosialisasi, dan upaya pencegahan. Termasuk di dalamnya memperkuat patroli laut dan meningkatkan peran komunitas lokal seperti panglima laot dalam menjaga keamanan wilayah pesisir.
#BNN #Aceh #beritaterkini #infoterkini #infoviral #beritaviral #informasi #ar_wow



