Korea Utara secara resmi membuka Wonsan-Kalma Coastal Tourist Area, sebuah resor pantai mewah yang diklaim sebagai simbol kemajuan pariwisata negara tertutup tersebut. Peresmian dilakukan pada akhir Juni 2025 dan langsung menjadi sorotan internasional, mengingat negara ini dikenal sangat membatasi akses bagi wisatawan asing.
Resor yang terletak di pesisir timur Kota Wonsan ini dilengkapi dengan fasilitas kelas atas seperti hotel modern, taman hiburan, hingga area rekreasi tepi pantai. Media pemerintah menyebut proyek ini sebagai bagian dari “era baru ekonomi wisata” di bawah kepemimpinan Kim Jong Un. Kapasitas kawasan ini diklaim mampu menampung hingga 20.000 pengunjung setiap malam.
Namun, antusiasme pembukaan resor ini langsung dibayangi berbagai pertanyaan dan kritik. Meskipun sempat menerima beberapa turis dari Rusia, Korea Utara kemudian melarang kembali masuknya wisatawan asing ke resor tersebut hanya beberapa minggu setelah dibuka. Tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan larangan ini, sehingga menimbulkan dugaan bahwa pembukaan resor lebih ditujukan untuk konsumsi domestik ketimbang membuka diri pada dunia luar.
Sejumlah laporan juga menyebut bahwa dari 17 hotel utama yang direncanakan, hanya 6 yang telah beroperasi saat peresmian. Fasilitas pendukung lainnya pun belum sepenuhnya rampung. Sementara itu, pengawasan terhadap turis asing dilaporkan sangat ketat, termasuk pembatasan komunikasi dan pelacakan aktivitas. Hal ini menimbulkan kekhawatiran soal transparansi dan kebebasan wisatawan di wilayah tersebut.
Analis independen menilai proyek ini lebih sebagai upaya membangun legitimasi internal dan menunjukkan citra kemajuan kepada rakyat Korea Utara. Dalam kondisi perekonomian yang dibatasi oleh sanksi internasional, sektor pariwisata memang bisa menjadi alternatif pendapatan, namun tetap dibayang-bayangi oleh kendala keterbukaan dan kontrol politik.
Kehadiran Kim Jong Un dalam peresmian, didampingi oleh istri dan putrinya, menunjukkan pentingnya proyek ini bagi citra pemerintahan. Meski dibuka dengan label “internasional”, kenyataannya akses tetap terbatas dan dikelola dengan pendekatan yang sangat tertutup.



