Fenomena tidak biasa terjadi di Danau Batur, Kabupaten Bangli, Bali, sejak awal bulan Juli. Ribuan ikan budidaya dilaporkan mati mendadak dalam beberapa hari terakhir. Air danau yang biasanya jernih berubah keruh dan menimbulkan bau belerang yang menyengat, mengundang kekhawatiran warga dan pelaku usaha perikanan setempat.
Menurut keterangan resmi dari Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli, penyebab utama peristiwa ini diduga adalah upwelling—yakni proses naiknya air dari dasar danau ke permukaan yang membawa serta gas belerang dan zat lain yang menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut di air.
Fenomena Musiman yang Makin Ekstrem
Upwelling biasanya terjadi saat musim angin kencang dan suhu udara dingin, yang memicu pergerakan vertikal air di danau. Namun, tahun ini, intensitas dan durasinya jauh lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, membuat dampaknya meluas hingga ke seluruh area keramba jaring apung milik petani ikan setempat.
“Ikan-ikan yang berada dalam keramba paling rentan karena mereka tidak bisa berpindah menjauhi lokasi air dengan kandungan oksigen rendah,” ujar perwakilan dari Dinas PKP Bangli.
Kerugian Capai Puluhan Ton
Dampak paling nyata dirasakan oleh peternak ikan yang mengelola keramba jaring apung di Danau Batur. Diperkirakan, kerugian akibat kematian ikan mencapai puluhan ton hanya dalam beberapa hari.
Untuk mencegah kerugian lebih lanjut, warga diimbau segera memanen ikan yang masih sehat dan menghentikan pemberian pakan untuk sementara waktu. Pemberian pakan justru bisa mempercepat kerusakan kualitas air jika tidak dikonsumsi oleh ikan.
Bangkai Ikan Dimanfaatkan sebagai Pupuk
Sebagai bagian dari upaya mitigasi lingkungan, bangkai ikan yang terkumpul tidak dibuang sembarangan. Pemerintah daerah bersama warga berinisiatif memanfaatkannya sebagai pupuk organik, sehingga tidak mencemari danau lebih jauh dan tetap memberi manfaat bagi pertanian lokal.
Pemantauan Intensif dan Antisipasi Lanjutan
Pemerintah daerah melalui dinas terkait kini melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi Danau Batur untuk mengantisipasi potensi semburan gas lanjutan. Warga juga diminta tetap waspada dan melapor jika menemukan gejala serupa di area lain.
Fenomena ini menjadi pengingat penting akan kerentanan ekosistem perairan di tengah perubahan iklim dan dinamika cuaca ekstrem. Langkah kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan dan keseimbangan lingkungan Danau Batur ke depan.



