Julian Brown, seorang penemu muda berusia 21 tahun asal Atlanta, Amerika Serikat, menjadi perbincangan luas di media sosial setelah memamerkan alat ciptaannya yang diklaim mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar. Alat tersebut, yang ia beri nama Plastoline, bekerja dengan metode microwave pyrolysis dan didukung energi surya, sebuah pendekatan yang ramah lingkungan dan berbiaya rendah.
Temuan ini viral karena dinilai sebagai solusi potensial untuk mengatasi krisis sampah plastik global dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, perhatian terhadap Julian Brown berubah drastis setelah unggahan video di media sosial pada 9 Juli 2025. Dalam video tersebut, Julian mengaku sedang berada dalam bahaya, menyebut dirinya diikuti oleh helikopter tanpa tanda, dan mengisyaratkan bahwa hidupnya terancam.
Setelah unggahan tersebut, seluruh aktivitas Julian di media sosial—termasuk Instagram, TikTok, dan X—mendadak terhenti. Selama hampir dua minggu, keberadaannya tidak diketahui publik. Hal ini memicu spekulasi dan kekhawatiran, hingga tagar dan topik terkait namanya menjadi trending di berbagai platform. Banyak warganet mempertanyakan apakah ia benar-benar dalam bahaya atau menghadapi tekanan karena penemuannya.
Pada 28 Juli 2025, ibunya, Nia Brown, memberikan pernyataan kepada media dan menegaskan bahwa Julian dalam keadaan selamat. Namun, ia tidak memberikan detail lokasi maupun kondisi terkini anaknya dengan alasan keamanan. Kepolisian setempat juga mengonfirmasi bahwa tidak ada laporan orang hilang yang diajukan atas nama Julian Brown.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Julian Brown sendiri mengenai alasan di balik unggahan yang mencurigakan dan ketidakhadirannya di ruang publik. Sementara itu, alat Plastoline dan proyek inovasinya tetap menjadi sorotan, terutama karena potensinya dalam menangani isu lingkungan melalui pendekatan teknologi yang dapat diakses secara luas.



