Pemerintah China dikabarkan mulai memperketat praktik penggantian pekerja manusia dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dilakukan demi efisiensi biaya operasional perusahaan. Langkah tersebut muncul di tengah meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur, layanan pelanggan, hingga administrasi perusahaan.
Sejumlah laporan media menyebut perusahaan di China tidak diperbolehkan melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak hanya untuk menggantikan tenaga manusia dengan sistem AI. Kebijakan itu disebut berkaitan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas lapangan kerja di tengah percepatan transformasi digital dan otomatisasi industri.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan AI di China berkembang sangat cepat. Banyak perusahaan mulai memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat proses kerja, dan mengurangi biaya operasional. Namun, kondisi itu juga memunculkan kekhawatiran terkait berkurangnya kebutuhan tenaga kerja manusia di sejumlah sektor.
Pemerintah China sendiri tetap mendukung pengembangan teknologi AI sebagai bagian dari strategi nasional di bidang teknologi dan ekonomi digital. Meski demikian, otoritas setempat disebut menekankan pentingnya keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan terhadap tenaga kerja.
Beberapa laporan juga menyebut pemerintah daerah dan lembaga terkait di China mulai memantau dampak otomatisasi terhadap pasar kerja. Pengawasan dilakukan untuk mencegah gelombang pengangguran akibat penggunaan AI secara massal oleh perusahaan-perusahaan besar.
Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena China merupakan salah satu negara dengan perkembangan teknologi AI tercepat di dunia. Negara itu terus berinvestasi dalam pengembangan AI, robotika, dan sistem otomatisasi untuk mendukung pertumbuhan industri dan ekonomi digital nasional.
#China #AI #infoterkini #beritaterkini #ar_wow



