Donald Trump kembali mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran agar segera membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Pernyataan ini disampaikan pada awal April 2026 melalui platform media sosial miliknya. Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak mematuhi, “neraka akan turun”, dan Amerika Serikat akan menargetkan infrastruktur penting Iran, termasuk fasilitas energi dan jaringan transportasi.
Ultimatum ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara yang berkaitan dengan penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute energi paling strategis di dunia karena menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Penutupan akses ini menimbulkan kekhawatiran serius akan gangguan pasokan energi internasional, yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar minyak dan ekonomi dunia.
Pemerintah Iran menolak ultimatum tersebut dan merespons dengan pernyataan balasan bernada keras. Pihak Iran menegaskan bahwa tekanan dari Amerika Serikat tidak akan memaksa mereka membuka Selat Hormuz, dan memperingatkan adanya konsekuensi serius jika ancaman tersebut dijalankan.
Situasi ini mencerminkan eskalasi ketegangan yang signifikan antara kedua negara, khususnya terkait keamanan jalur pelayaran dan stabilitas kawasan Timur Tengah. Para analis memperingatkan bahwa konflik yang terus meningkat di Selat Hormuz berisiko memicu gangguan global yang lebih luas, mengingat posisi strategis jalur ini bagi perdagangan energi internasional.
Selain itu, komunitas internasional memantau situasi dengan cermat, karena ketegangan ini bisa memengaruhi aliansi regional dan kebijakan energi negara-negara besar. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda bahwa kedua pihak akan mundur dari posisi masing-masing, sehingga risiko konfrontasi militer tetap menjadi perhatian utama dunia.
#Trump #Iran #SelatHormuz #beritaterkini #ar_wow



