Pemerintah Bangladesh memberlakukan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) dan penutupan sementara universitas sebagai respons terhadap krisis energi global akibat konflik Timur Tengah. Langkah ini diumumkan setelah gangguan pasokan minyak dan gas dunia, terutama dari Selat Hormuz, akibat ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Krisis ini berdampak signifikan pada Bangladesh, yang bergantung pada impor energi sekitar 95%. Untuk mengantisipasi kekurangan bahan bakar, pemerintah menetapkan batas pembelian harian BBM bagi sepeda motor, mobil pribadi, dan kendaraan besar. Pembatasan ini dimaksudkan untuk menghindari penimbunan dan memastikan stok energi cukup hingga pasokan stabil kembali.
Selain itu, seluruh universitas negeri dan swasta di Bangladesh ditutup sementara mulai awal Maret. Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi konsumsi listrik dan BBM, termasuk penggunaan energi di gedung kuliah, laboratorium, dan asrama mahasiswa. Beberapa sekolah dan pusat bimbingan belajar juga mengikuti kebijakan penutupan sementara.
Pemerintah Bangladesh juga mengambil langkah tambahan, termasuk menutup beberapa pabrik pupuk yang menggunakan gas dan membeli LNG di pasar spot internasional untuk mengisi kekurangan pasokan. Negosiasi pasokan energi tambahan dengan negara tetangga seperti India dan China juga sedang dilakukan.
Langkah Bangladesh ini sejalan dengan respons negara-negara Asia lain yang terdampak krisis energi global. Pembatasan BBM, penghematan listrik, dan langkah-langkah darurat lainnya diterapkan untuk mengantisipasi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Krisis energi yang sedang berlangsung menegaskan ketergantungan negara-negara Asia pada pasokan minyak Timur Tengah, dan Bangladesh mengambil tindakan darurat untuk memastikan kestabilan pasokan energi nasional sampai kondisi global membaik.
#Bangladesh #TimurTengah #beritaterkini #infoterkini #ar_wow



