Fenomena mencairnya salju abadi di Puncak Jayawijaya, Papua, kini menjadi perhatian serius. Berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tutupan es di puncak tertinggi Indonesia tersebut terus mengalami penyusutan signifikan. Dari luas sekitar 19,3 kilometer persegi pada tahun 1850, kini hanya tersisa sekitar 0,34 kilometer persegi. BMKG memprediksi, lapisan es di kawasan itu dapat mencair sepenuhnya pada tahun 2026.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut bahwa mencairnya es di Pegunungan Jayawijaya merupakan proses alami yang tidak bisa dipulihkan. Peningkatan suhu udara dan perubahan iklim global menjadi faktor utama yang mempercepat hilangnya salju abadi di wilayah tropis tersebut. BRIN menegaskan, proses ini adalah dampak nyata dari pemanasan global yang kian terasa di Indonesia.
Hasil pengamatan menunjukkan ketebalan es di area Carstensz Pyramid, yang menjadi bagian dari Puncak Jayawijaya, terus menurun dari sekitar 32 meter pada 2010 menjadi hanya 4 meter pada 2022. Laju pencairan diperkirakan mencapai rata-rata 1,5 meter per tahun. Jika tren ini berlanjut, salju abadi yang selama ini menjadi ikon geologi dan kebanggaan alam Papua diperkirakan akan hilang dalam waktu kurang dari dua tahun.
Pencairan ini bukan hanya kehilangan simbol alam Indonesia, tetapi juga menjadi indikator penting perubahan ekosistem di kawasan tropis. Para peneliti menilai, fenomena tersebut mencerminkan kondisi bumi yang semakin panas akibat akumulasi emisi gas rumah kaca dan berkurangnya keseimbangan iklim global.
#PuncakJaya #PerubahanIklim #Papua #Lingkungan #BeritaTerkini #infoterkini #beritaviral #infoviral #fyp #informasi #ar_wow



