Film animasi Merah Putih One For All tengah menjadi sorotan di dunia hiburan Indonesia. Selain mengangkat tema kebangsaan, film ini juga menarik perhatian karena biaya produksinya yang mencapai sekitar Rp6,7 miliar. Angka tersebut terbilang cukup besar untuk sebuah proyek animasi lokal dan menjadi perbincangan di kalangan masyarakat.
Proyek animasi ini diproduksi oleh rumah produksi Perfiki Kreasindo dengan dana yang berasal dari kontribusi para anggota secara mandiri, tanpa menggunakan dana dari pemerintah atau lembaga resmi lainnya. Meski anggaran cukup besar, proses pengerjaan film berlangsung sangat cepat, yakni kurang dari dua bulan sejak tahap produksi dimulai.
Setelah trailer Merah Putih One For All dirilis, berbagai tanggapan pun muncul dari masyarakat dan para pengamat. Beberapa pihak menyoroti kualitas visual dan cerita yang disajikan dalam film ini. Di sisi lain, diketahui bahwa beberapa aset animasi menggunakan konten digital dari toko online seperti Daz3D, termasuk aset jalanan yang dikenal dengan nama “Street of Mumbai.” Produser film, Toto Soegriwo, menanggapi berbagai komentar ini dengan menyatakan bahwa reaksi masyarakat justru membantu memperluas jangkauan film tersebut ke publik yang lebih luas.
Menanggapi kritik dan komentar yang beredar, sutradara Hanung Bramantyo turut memberikan dukungan kepada para kreator Merah Putih One For All. Hanung memahami berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh tim produksi, terutama keterbatasan waktu yang sangat singkat. Ia menilai tekanan penyelesaian film dalam kurun waktu yang terbatas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kualitas akhir film. Pernyataan ini sekaligus menunjukkan penghargaan atas kerja keras dan dedikasi para kreator dalam mewujudkan proyek animasi ini secara mandiri.



