Harga plastik di Indonesia mengalami kenaikan signifikan, mencapai sekitar 50% sejak awal April 2026. Lonjakan paling terasa pada produk plastik kemasan dan kantong kresek, yang kini dijual sekitar Rp15.000 per pak, naik dari sebelumnya Rp10.000. Kenaikan ini bervariasi tergantung jenis dan ukuran plastik, dan langsung dirasakan oleh pelaku usaha, termasuk UMKM yang mengandalkan plastik sebagai kemasan utama produk mereka.
Penyebab utama kenaikan harga adalah gangguan pasokan bahan baku global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik ini memengaruhi jalur distribusi penting di Selat Hormuz, salah satu jalur strategis untuk pengiriman minyak dan gas dunia. Akibatnya, pasokan bahan baku petrokimia seperti nafta, polietilen, dan polipropilen mengalami hambatan.
Kenaikan harga minyak dunia juga turut mendorong biaya produksi plastik meningkat. Ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku dari kawasan Timur Tengah membuat industri plastik domestik lebih rentan terhadap fluktuasi pasokan global.
Dampak lonjakan harga ini terasa luas, terutama pada sektor kemasan dan usaha kecil menengah yang harus menyesuaikan biaya produksi. Beberapa pelaku usaha mulai mencari alternatif kemasan atau menyesuaikan harga jual produk untuk menjaga margin keuntungan.
Pemerintah dan pelaku industri kini tengah aktif mencari sumber pasokan lain agar harga plastik stabil dan ketersediaan bahan baku di pasar domestik tetap terjaga. Upaya ini dinilai penting untuk menahan dampak inflasi di sektor industri serta menjaga kelangsungan UMKM yang bergantung pada kemasan plastik.
#HargaPlastik #UMKM #infoterkini #beritaterkini #ar_wow



